TB Tulang Menyebabkan Kelumpuhan?

18Mar, 2020

Tuberkulosis (TB) tulang adalah penyakit infeksi yang menyerang tulang dan dapat menyebar hampir ke setiap bagian tubuh, termasuk ginjal, tulang, dan kelenjar limfa (kelenjar getah bening).

Infeksi tuberkulosis mulai tumbuh di atas tulang rawan dan kemudian meluas menjangkiti tulang. Bila penyakit semakin memburuk dapat menyebar dari satu ruas tulang belakang ke lainnya, melemahkan tulang-tulang, dan menghancurkan bantalan sendi di antaranya. Pada kasus-kasus berat, tulang belakang (vertebra) dapat hancur/keropos dan menjepit sumsum tulang belakang, menyebabkan kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.

TB yang terjadi pada tulang selain tulang belakang mungkin juga akan menekan saraf-saraf yang berdekatan. Sebagai contoh, jika TB mengenai tulang pergelangan tangan, mungkin akan menekan saraf di situ, menimbulkan gejala-gejala dari sindrom terowongan kapal (carpal tunnel syndrome).

Lokasi Saraf yang Kejepit

Gerak maju (progresivitas) penyakit TB tulang perlahan dan munculnya gejala-gejala bervariasi antara dua minggu hingga beberapa tahun.

Prevalensi penderita TB tulang belakang mencapai sebagian dari keseluruhan kasus TB tulang, baik dikaitkan dengan penyakit paru-paru maupun tidak. Jika tidak didiagnosis dan tidak diobati sejak awal bisa kemungkinan menjadi akibat utama paraplegia (kelumpuhan bagian bawah tubuh) dan deformitas (kelainan bentuk tulang).

Tekanan pada saraf secara khas menyebabkan rasa nyeri, mati rasa (baal), atau kelemahan. Lokasi dari gejala-gejala tersebut bergantung di mana saraf yang kejepit. Bila saraf tulang belakang terjepit, penderita spondilitis dapat mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang bersifat kaku (spastik), dan paraplegia sampai setinggi daerah, tempat saraf tersebut terjepit.

Menurut salah satu tulisan yang diterbitkan di Jurnal Medscape, kelumpuhan kaki pada akhirnya terjadi pada sebagian besar penderita penyakit Pott yang tidak diobati. Kelemahan atau kelumpuhan pada kedua kaki dan kehilangan kontrol untuk BAK atau BAB mungkin terjadi pada kasus saraf tulang belakang yang tertekan atau kejepit.

Paraplegia pada pasien TB spondilitis dengan penyakit aktif atau yang dikenal dengan istilah ‘Pott paraplegia’, terdapat dua tipe gangguan fungsi saraf yang ditemukan pada stadium awal dari penyakit, yaitu dikenal dengan onset (awitan) awal. Paraplegia pada pasien yang telah sembuh yang biasanya berkembang beberapa tahun setelah penyakit primer sembuh, yaitu dikenal dengan onset (awitan) lambat.

Kelainan Bentuk Tulang Belakang

Jika TB tulang belakang menghancurkan/merusak vertebra dan diskus, tulang belakang akan kehilangan bentuk normalnya. Ketika tulang belakang bagian dada yang terkena, bagian depan vertebra biasanya hancur lebih parah dibandingkan bagian punggung. Keadaan tersebut cenderung menyebabkan keluarnya suatu tonjolan di tulang belakang yang disebut punuk. Bila dilihat secara langsung punuk tidak terlihat, namun akan sangat jelas dalam hasil sinar-X.

“TB tulang membutuhkan pendekatan berbeda dan waktu pengobatan biasanya lebih lama bila dibandingkan dengan TB paru-paru. Sekitar 50 persen TB tulang mengenai tulang belakang yang dapat menyebabkan kelumpuhan bila tidak ditangani dengan baik,” ucap Abhay Nene, Konsultan Tulang Belakang di RS Wockhardt (India).

Bisa Diobati

Diagnosis TB tulang dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis lengkap, termasuk riwayat kontak dekat dengan pasien TB, epidemiologi, gejala klinis, dan pemeriksaan neurologis. Selain itu, dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Metode pencitraan modern, seperti pemeriksaan sinar-X, CT scan, MRI, dan USG akan sangat membantu menegakkan diagnosis, serta pemeriksaan laboratorium untuk memberikan diagnosis pasti.

Pengobatan untuk TB tulang normalnya berlangsung sedikitnya satu tahun. Pada kasus TB tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan, pengobatan dan waktu pemulihan bergantung pada tingkat kelumpuhannya, apakah ringan, sedang, atau berat.

Pada TB yang resisten obat, membuat penderitanya gagal bereaksi terhadap beragam obat, juga makan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya. Semua penderita TB sangat disarankan untuk menjalani pengobatan sampai tuntas tanpa ada jeda, dan jangan mengurangi dosis tanpa konsultasi dengan dokter. Bila itu dijalani dengan tertib, penyakit TB sangat mungkin bisa diobati.

Sekitar sepertiga penderita yang mengalami gangguan fungsi saraf akan pulih dalam waktu 3-4 minggu dengan penanganan konservatif.

Prosedur pembedahan dapat dipertimbangkan untuk TB spondilitis yang tidak respons terhadap pengobatan atau sudah menimbulkan deformitas atau nyeri. (*Berbagai sumber)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *