Bentuk Infeksi TB Tulang

20Mar, 2020

Tuberkulosis (TB) tulang adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa dan merupakan proses peradangan kronik dan destruktif pada tulang belakang yang dikenai.

Mycobacterium tuberculosa ini menyebar secara hematogen (lewat aliran darah) menuju ke tulang belakang.

Bila tulang yang terjangkiti kuman TB menjadi rusak, bisa terjadi pengeroposan tulang. Keluhan awal yang sering muncul pada infeksi TB tulang belakang adalah adanya rasa nyeri di punggung.

Laboratorium dan radiologis merupakan dua jenis yang mungkin disarankan dokter untuk dilakukan guna membantu mendeteksi ada tidaknya TB pada tulang.

TB yang menyerang tulang dikenal dengan istilah spondilitis TB.

Bakteri M tuberculosa dapat menyebar lewat udara. Pintu masuk pada tubuh manusia adalah melalui saluran pernapasan/paru-paru. Perkembangan bakteri TB di dalam tubuh sangat lamban, tergantung pada daya tahan tubuh orang yang bersangkutan.

Bentuk TB Tulang

Klasifikasi TB tulang atau spondilitis TB dibuat berdasarkan kerusakan pada tulang belakang (vertebra) yang dapat dibedakan menjadi:

  1. Sentral, kerusakan awal terletak pada bagian sentral/tengah tulang belakang
  2. Anterior, lokasi awal ada di korpus bagian superior (atas) atau inferior (bawah) dan merupakan penyebaran dari vertebra di atasnya.
  3. Paradiskus, kerusakan ada di bagian korpus yang bersebelahan dengan diskus antar ruas tulang belakang.
  4. Atipikal, merupakan campuran bentuk sehingga tidak berpola dengan jelas.

Bagian tulang belakang yang sering terserang adalah peridiskal yang terjadi pada sepertiga kasus

TB spondilitis dan dimulai dari bagian metafisis tulang.

Penyebarannya melalui ligamen-ligamen yang terjadi sekitar 2,1 persen kasus spondilitis TB.

TB tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari TB di tempat lain di tubuh, 90-95 persen disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis tipik (2/3 tipe human dan 1/3 tipe bovine) dan 5-10% sisanya oleh mikobakterium atipik.

Kelumpuhan Bisa Terjadi

TB tulang merupakan kondisi yang memerlukan perhatian ekstra karena dapat menyebabkan kerusakan neurologis akibat kemungkinan terjadinya kompresi (terjepitnya) struktur saraf yang berdekatan dan kelainan bentuk (deformitas) tulang belakang yang signifikan. Kerusakan neurologis yang dapat timbul adalah paraplegia (kelumpuhan).

Bila sudah ada gangguan akibat terjepitnya saraf di tulang belakang, maka paraplegia dapat dibedakan:

  • Derajat 1, tungkai bawah mengalami kelemahan setelah beraktivitas atau setelah berjalan jauh, namun tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensorik.
  • Derajat 2, kelemahan tungkai bawah namun masih dapat beraktivitas atau bekerja.
  • Derajat 3, kelemahan tungkai bawah, namun gerak/aktivitas sudah terbatas dan timbul penurunan sensitivitas terhadap nyeri (hipoestesia)
  • Derajat 4, gangguan saraf sensorik dan motorik disertai gangguan BAB dan BAK.

Mungkin Perlu Biopsi

Gejala pertama yang biasa dikeluhkan adalah adanya benjolan pada tulang belakang (gibus) yang disertai nyeri. Untuk mengurangi rasa nyeri, pasien malah enggan menggerakkan punggungnya, sehingga seakan-akan kaku.

Pasien kadang sulit untuk membungkuk atau mengangkat barang dari lantai, dan nyeri yang dirasakan akan berkurang saat beristirahat.

Deformitas tulang belakang terjadi terjadi di sebagian besar kasus TB tulang atau sekitar 80 persen kasus. Deformitas ini disebabkan oleh gibus sehingga punggung membungkuk dan membentuk sudut. Kelainan yang sudah berlangsung lama dapat disertai dengan paraplegia (kelumpuhan bagian bawah tubuh) ataupun tanpa paraplegia.

Selain itu, dapat timbul abses yang timbul pada tulang belakang dan menjalar ke rongga dada bagian bawah atau ke pangkal paha. Abses ini berisikan pus atau cairan nanah.

Kuman TB menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit, sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Organ yang dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru-paru, terutama puncak paru.

Klinik Lamina

Penyakit TB ini memerlukan minum obat antituberkulosa sesuai dengan anjuran dokter. Bila dari hasil MRI menunjukkan adanya jepitan saraf di ruas tulang belakang, mungkin dokter akan mempertimbangkan beberapa tindakan untuk membebaskan saraf tersebut agar gejala nyeri yang dirasakan dapat tuntas.

Beberapa teknologi yang dimiliki Klinik Lamina Pain and Spine Center ini untuk mengatasi saraf terjepit adalah PELD, PSLD, dan PLDD. Teknologi ini dilakukan tanpa operasi dan hanya dilakukan dalam waktu 10-45 menit.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *